Selasa, 02 April 2013

Jalan Menuju Sukses


Keberhasilan seringkali tak tampak karena ia bersembunyi di balik kesulitan. Cuma orang-orang yang mampu mendobrak “tembok penghalang”
itulah yang akan menemui keberhasilan.
“manjadda wajada”
******
Seorang pemuda yang sedang galau dirundung tanya kenapa kok dirinya gitu-gitu aja. Tambah galau dia kalau nada tanya itu senantiasa mendenging di telinga. Karena itu dia berpikiran, “ah.. sebaiknya saya mencari orang berilmu untuk berguru kepadanya.”
Berjalanlah pemuda itu agar bertemu dengan seorang guru yang bisa memberinya petunjuk bagaimana supaya sukses. Di sebuah jalan yang sedang ditempuhnya, pemuda itu pun bertemu sesorang bapak tua, pikirannya seperti meyakinkan bahwa orang itulah yang bisa memberi petunjuk. Lalu bertanyalah pemuda itu, “Pak tua, yang manakah jalan menuju sukses?” Bapak tua itu terdiam sejenak. Tanpa mengucapkan sepatah kata, lalu Pak tua itu menunjuk ke arah sebuah jalan dengan telunjuknya. Pemuda itu segera berlari menyusuri jalan yang ditunjukkan Pak tua itu. Pemuda itu tak mau membuang-buang waktu lagi untuk meraih kesuksesan. Setelah beberapa saat melangkah tiba-tiba ia berseru, “Ha! Ini jalan buntu!” Benar, di hadapannya berdiri sebuah tembok besar yang menutupi jalan. Ia terpaku kebingungan, “Barangkali aku salah mengerti maksud Pak tua tadi,” pikirnya.
Tanpa buang waktu pemuda itu berbalik jalan untuk menemui Pak tua itu dan menanyakan sekali lagi, “Pak tua, yang manakah jalan menuju sukses.” Lagi-lagi Pak tua itu menunjuk ke arah jalan yang sama. Pemuda itu berjalan kembali ke arah jalan yang ditunjuk. Namun yang ditemuinya tetap saja sebuah tembok yang menutupi jalan. Timbul dalam pikiran pemuda itu, “Ah sepertinya Pak tua itu mempermainkan saya.” Dengan muka merah padam karena menahan amarah, pemuda itu menemui Bapak tua itu lagi, “Pak tua, aku sudah menuruti petunjukmu. Tetapi yang aku temui adalah sebuah jalan buntu. Aku tanyakan sekali lagi padamu, yang manakah jalan menuju sukses? bapak jangan hanya menunjukkan jari saja, tetapi bicaralah!” Akhirnya Bapak tua itu membuka mulut dan berbicara, “Di situlah jalan menuju sukses. Hanya beberapa langkah saja di balik tembok itu. Cobalah kalau memang kau mau meraihnya. Jangan hanya berhenti menatapnya, tapi dobraklah.”

Sabtu, 23 Maret 2013

Mulutmu, Celakamu


Kesadaran adalah matahari, kesabaran adalah bumi,
dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata
WS. Rendra
*******
Dua hari lalu sepulang kantor istri saya cerita bahwa teman kerjanya diciduk aparat lantaran dilaporkan tetangganya. Tiap pagi kalau mengantar istri sampai gerbang kantornya, saya berpapasan dengan sosok orang yang diceritakan.
Apa pasal sampai dilaporkan tetangga, istri saya tak tahu persis. Tapi, konon orang ini pagi-pagi sesampai di kantor langsung ngerumpiin tetangganya. Hampir tiap hari ada cerita baru tentang tetangganya. Istilah jejaring sosial tuh selalu up date berita. Entahlah apakah ceritanya tranding topic apa nggak.
Sejatinya, apa yang mulut katakan adalah atas kendali otak. Berarti mulut saya, otak saya. Mulut kamu, otak kamu. Mulut kita, otak kita. Tapi, adakalanya si mulut ini nyablak tanpa dikendalikan terlebih dahulu oleh otak, baru kemudian memberi input ke otak. Oleh otak kemudian disimpan menjadi file program apa yang telah mulut katakan. Dalam hal ini mulut menemukan kesadarannya sendiri, bebas dari rasa ragu untuk mengatakannya. Terabailah hubungan antara kesadaran dan otak. Kalau tak pandai menjaga mulut dan omongan menyakiti tetangga, bila berbuntut perkara di ranah hukum, celakalah akibatnya. Mulutmu, Celakamu.
Para ahli neuroscience mencoba menemukan keterkaitan antara kesadaran (wakefulness), otak (mind) dan diri (self). Ternyata ketiganya tak selalu ada hubungan satu arah, misalnya kesadaran memengaruhi otak, otak memengaruhi persepsi diri. Hubungan yang terjadi bisa saling silang, misalnya otak memengaruhi kesadaran, persepsi diri memengaruhi kerja otak.
Hidup bertetangga memang rentan terjadinya friksi. Kalau tidak mengedepankan kesadaran dan otak, persoalan sepele akan menyulut emosi mengupak amarah yang akhirnya terjadi percekcokan, si mulut ngomong di luar batas nalar.
Rasulullah SAW bersabda:
خَيْرُ الْأَصْحَابِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لصَاحِبِهِ وَخَيْرُ الْجِيْرَانِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ
 “Sebaik-baik sahabat di sisi Allah adalah mereka yang terbaik kepada sahabatnya dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah mereka yang terbaik pada tetangganya.” (HR. Tirmidzi).
Begitu penting dan mulianya tetangga, Islam datang mengajarkan adab-adab bertetangga. Allah SWT berfirman:
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (An-Nisa’ : 36).
Bagaimana Berbuat dan Berakhlak Baik pada Tetangga?
Pertama: Bersabar, menahan diri dari segala bentuk kezaliman dan perkara yang mendatangkan mudarat kepada tetangga.
Sabda Rasulullah SAW:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمَ الْآخِرْ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah dia sakiti tetangganya.”
Bersabar dalam menghadapi gangguan tetangga, atau memilih pindah rumah jika memang hal itu memungkinkan. Allah berfirman: “Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antara kamu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS Fushshilat: 34).
Jika tidak mampu bersabar menghadapi gangguan tetangga, sementara kita tidak mungkin pindah rumah, maka coba kita terapkan nasihat Rasulullah berikut ini:
“Seorang laki-laki pernah datang kepada Nabi mengeluhkan tetangganya. Maka Rasulullah menasehatinya, ”Pulanglah dan bersabarlah!” Lelaki itu kemudian mendatangi Nabi lagi sampai dua atau tiga kali, maka Beliau bersabda padanya, “Pulanglah dan lemparkanlah barang-barangmu ke jalan!” Maka lelaki itu pun melemparkan barang-barangnya ke jalan, sehingga orang-orang bertanya kepadanya, ia pun menceritakan keadaannya kepada mereka. Maka orang-orang pun melaknat tetangganya itu. Hingga tetangganya itu mendatanginya dan berkata, “Kembalikanlah barang-barangmu, engkau tidak akan melihat lagi sesuatu yang tidak engkau sukai dariku.” (HR Bukhari)
Kedua: Berbuat baik dan menempuh segala sebab syar’i yang mendatangkan kebaikan bagi tetangga.
Membalas kejahatan tetangga dengan perbuatan baik merupakan salah satu etika bertetangga yang diajarkan Islam. Nabi SAW bersabda, “Tiga golongan yang dicintai Allah… dan laki-laki yang memiliki tetangga yang menyakitinya, kemudian ia bersabar menghadapi gangguannya hingga ajal memisahkan mereka.” (HR Imam Ahmad).
Rasulullah SAW mengabarkan bahwa menyakiti tetangga adalah sebab terjerumusnya seseorang dalam neraka meskipun dia adalah ahli ibadah. Abu Hurairah ra berkata:
قِيْلَ لِلنَّبِيِّ n: يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ فُلاَنَةَ تَقُومُ اللَّيْلَ وَتَصُومُ النَّهَارَ وَتَفْعَلُ وَتَصَدَّقُ وَتُؤْذِي جِيْرَانَهَا بِلِسَانِهَا. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ : لاَ خَيْرَ فِيْهَا، هِيَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ
Dikatakan kepada Nabi: “Wahai Rasulullah sesungguhnya fulanah senantiasa melakukan shalat malam, berpuasa di siang hari, banyak beribadah dan bersedekah, tetapi dia selalu menyakiti tetangganya dengan lisannya.” Maka Rasulullah n bersabda: “Tidak ada kebaikan pada dirinya, dia termasuk penghuni neraka.”
Bahkan dalam sabda yang lain Rasulullah SAW meniadakan keimanan dari orang yang berbuat zalim kepada tetangganya. Abu Syuraihz meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
وَاللهِ لاَ يُؤْمِنُ، وَاللهِ لاَ يُؤْمِنُ، وَاللهِ لاَ يُؤْمِنُ. قِيْلَ: وَمَنْ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: الَّذِي لاَ يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ
“Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman!” Rasul ditanya: “Siapa wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari keburukannya.”
Asy-Syaikh Abdul Muhsin Al-’Abbad hafizhahullah berkata: “Hak tetangga adalah hak-hak yang sangat ditekankan atas tetangganya. Hadits-hadits telah datang begitu banyak, memberi dorongan untuk memuliakan tetangga sekaligus mengancam dari menyakiti tetangga atau menimpakan kemudaratan kepadanya… Memuliakan tetangga terwujud dengan menyampaikan kebaikan kepada mereka dan selamatnya mereka dari kejelekannya.” (diringkas dari risalah Fathu Al-Qawiyyil Matin Fi Syarhil Arba’in Wa Tatimmatil Khamsin, hal. 62-63).
Referensi:
-   Politik Otak, Politik Tubuh; OLEH BRE REDANA dalam Rubrik UDAR-RASA, Kompas, Minggu, 3 Maret 2013.
- http://www.republika.co.id/dunia-islam/islam-digest/11/05/13/ll4yop-hidup-bertetangga-ala-rasulullah

Sabtu, 16 Maret 2013

Mengharap yang Terbaik, Tapi…


Alkisah seorang pemuda yang usianya sudah kepala 3 mendatangi guru spiritual di suatu lembah. Tujuannya ingin menggali pemahaman tentang arti cinta sesungguhnya, yang sampai usianya berkepala 3 belum juga ditemukannya. Menempuh perjalanan yang jauh, sampailah dia di lembah yang hijau dan begitu meneduhkan. Seketika perasaannya disergap kenyamanan akan suasana di lembah itu.
Setelah bertemu sang guru dan mengemukakan maksud tujuannya datang ke sana, si pemuda diberi wejangan awal, yang intinya ada syarat-syarat tertentu yang harus dijunjung oleh siapa pun yang berguru kepadanya. Si pemuda sepakat untuk mengikuti aturan yang berlaku dan sanggup menjunjung tinggi persyaratan dimaksud. Oleh guru dia dikenalkan dengan orang-orang yang juga punya maksud dan tujuan  sama dengannya. Ada belasan pemuda dan pemudi yang tampak ganteng-ganteng dan cantik-cantik meski menampakkan cahaya usia yang beranjak menua.
Semua yang berguru di situ oleh sang guru dibuka kesempatan untuk saling mengenal lebih dekat, tujuannya siapa tahu antara satu sama lain saling tertarik untuk menjalin cinta dan berjodoh.
Sesi pengajaran yang harus ditempuh para pemuda dan pemudi di padepokan itu adalah selama 4 bulan. Materi ajar yang disiapkan guru untuk disimak baik-baik oleh para pemuda dan pemudi itu tentang pengendapan rohani, untuk menemukan makna cinta sejati.
Baru mengikuti pelajaran 1 bulan si pemuda tadi sudah tak tahan, mulai gelisah dan merasa tak nyaman di padepokan itu. Tak satu pun pemudi yang berguru di situ menarik hatinya untuk dikenal lebih dekat. Dia ingin segera menyelesaikan sesi pengajaran dan pergi meneruskan pencariannya di tempat lain.
“Baiklah anak muda, ikuti pelajaran 1 bulan lagi baru kamu akan saya uji,” kata sang guru. Dengan berat hati si pemuda bertahan, pikirnya kali saja ada pelajaran akhir yang akan membawa pencerahan padanya tentang hakikat cinta sejati yang bertahun-tahun dicarinya sampai usianya beranjak menua dan baru dia sadari.
Sadar usia menua namun jodoh yang dicari sesuai kriteria belum juga didapat, mendorongnya untuk “pulang” ke bilik rohani yang lama ditinggalkannya. Ditujunyalah padepokan di tempat sang guru mengajarkan pencerahan, yang diketahuinya dari banyak cerita telah berhasil membantu orang-orang yang berguru menemukan jodoh seketika kembali dari padepokan itu.
Sahdan, di akhir bulan ke 2, bersamaan dengan “murid” sang guru lainnya menempuh UTS (Ujian Tengah Sesi). Si pemuda diajak sang guru menelusuri lembah. Oleh sang guru si pemuda diberi tugas mencari putik kembang yang paling indah menurut hati nuraninya. Si pemuda pun berjalan dan terus berjalan menyusuri hamparan lembah yang sejauh mata memandang menampakkan putik-putik kembang aneka rupa dan warna yang semuanya indah.
“Pergilah cari yang menurut kamu kembang paling indah, kalau sudah ketemu bawa ke mari dan serahkan kepada saya,” kata sang guru sambil menunjuk ke arah sebuah bale bengong di tengah hamparan kembang, saya tunggu di situ.
Si pemuda pun berjalan menyusuri hamparan kembang, dari putik satu ke putik lain dilihatnya kembang-kembang itu indah semua. Sehingga tak ada yang dipetiknya dengan asumsi mungkin ada yang lebih indah, dan dia pun meneruskan pencariannya hingga akhirnya hari mulai gelap karena malam akan segera tiba. Di tengah kebingungan putik mana yang akan dipetik untuk diserahkan kepada sang guru, dia teruskan juga berjalan meski hari semakin gelap.
Rasa tanggung jawab yang mengharuskannya menemukan kembang yang paling indah seperti ditugaskan sang guru. Akhirnya di tengah keremangan alam menuju gelap, penglihatannya tertumbuk pada seputik kembang yang nampak indah karena tersamar semburat cahaya matahari yang akan tenggelam. Kembang itulah yang dia petik dan diserahkannya kepada sang guru.
Setelah menerima seputik kembang yang diserahkan si pemuda, guru itu memperhatikannya dengan seksama. Lalu berkata; “Tak ada yang spesial dari kembang yang kamu petik ini.” Pemuda itu pun mengakui bahwa banyak kembang indah-indah yang dijumpainya di tengah perjalanan, namun dia berpikir masih ada yang lebih indah sehingga tak satu pun kembang itu dipetiknya dengan harapan akan menemukan yang paling indah bila terus berjalan mencari. Hingga akhirnya gelap pun mengadangnya.

Sang guru pun tersenyum dan berkata bahwa itulah yang terjadi dalam kehidupan nyata yang kamu jalani. ”Putik kembang tak obahnya bagai gadis-gadis yang kamu temui. Banyak yang cantik tapi pikiranmu berpendapat masih ada yang lebih cantik. Sehingga kamu pun terus mencari yang paling cantik itu, namun susah kamu temukan hingga akhirnya usiamu beranjak tua. Hamparan kembang yang kamu susuri tak obahnya bagai perputaran waktu yang silih berganti dari siang ke malam dan siang kembali, Jadi, dalam kehidupan nyatamu telah terjadi apa yang kamu lakukan hanyalah menghabiskan waktu secara sia-sia. Mengharapkan yang terbaik, tapi yang kamu harapkan tak kesampaian. Waktu terbuang percuma, sedangkan waktu takkan berputar kembali ke masa lalu, sehingga kamu bisa mengulang kehidupan dari awal lagi.”