Senin, 18 Agustus 2014

UTS Kenalkan Dunia Desain ke Pelajar SMA

DESAIN menjadi salah satu jurusan dengan masa depan yang terbilang cerah. Apalagi mengingat Indonesia tengah menumbuhkan sektor industri kreatif, termasuk di dalamnya bidang desain.
Desain menjadi salah satu jurusan dengan masa depan cerah. Karena itulah, University of Technology Sydney (UTS) memperkenalkan bidang ini ke siswa SMA di Indonesia. (Foto: Margaret P/Okezone)
Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) pada 2 Januari 2014, sejak 2006, industri kreatif di Indonesia telah bertumbuh hampir 100 persen dalam kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Pada 2013, industri kreatif Indonesia telah mempekerjakan lebih dari 11,9 juta pekerja dan menyumbangkan sekira tujuh persen terhadap total PDB atau Rp641,8 miliar. Ini merupakan sebuah peningkatan sebesar 10,9 persen dari 2012.
Menyadari hal tersebut, salah satu sekolah desain terbaik Australia, yakni University of Technology Sydney (UTS) Insearch hadir ke Indonesia untuk memberikan informasi mendalam terkait dunia desain kepada para pelajar SMA. Kegiatan tersebut dikemas dalam bentuk workshop di delapan kota.
“Kami akan mengadakan workshop untuk pelajar SMA di beberapa kota. Mengenalkan mereka dengan proses dalam mendesain. Mulai dari ide, seleksi ide, sampai akhirnya menjadi suatu produk,” kata Program Manager untuk Desain UTS: INSEARCH Matthew Holt di Plaza Bapindo, Sudirman, Jakarta Selatan, Senin (18/8/2014).
Holt menyebut, workshop tersebut akan berlangsung selama 18-29 Agustus 2014. Apapun kota yang menjadi sasaran ialah Jakarta, Bandung, Malang, Makassar, Semarang, Solo, Denpasar, dan Surabaya.
Channel Markerting Executive UTS:INSEARCH Indonesia Stefani Sugiarto menambahkan, workshop akan dilakukan di 1-2 sekolah mitra di masing-masing kota. Pemilihan sekolah pun beragam baik sekolah negeri, swasta, maupun internasional.
“Ini acara kedua. Animo tahun lalu cukup baik karena sekolah meminta kami untuk kembali mengadakan acara ini. Sekolah yang dipilih macam-macam, baik negeri, swasta, maupun internasional. Di tiap kota akan kami adakan berbeda. Ada yang satu hari ada yang dua hari,” papar Stefani.
OKEZONE.com

Rabu, 30 Juli 2014

Saling Memaafkan, Membuat Hati dan Jiwa Tenang

Setelah menunaikan kewajibab berpuasa Ramadhan sebulan penuh, sampailah saatnya merayakan Idul Fitri. Kata idul Fitri terdiri dari ’id dan al-fithr. Kata ’id berasal dari akar yang sama dengan kata-kata ’awdah atau ’awdatun, ’aadah atau ’aadatun dan isti’aadatun. Di mana kesemuanya mengandung makna asal ”kembali” atau ”terulang”. Kata ’aadat wa isti ’aadatun diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi ”adat” dan ”istiadat” yang berarti sesuatu yang selalu akan terulang dan diharapkan akan terus terulang, yakni sebagai ”adat kebiasaan”. Dalam bahasa Arab, hari raya diartikan dengan ‘id, karena ia akan selalu datang kembali berulang-ulang secara periodik setiap tahun.

Sedangkan al-fithr adalah satu akar dengan kata al-fihtrah, yang berarti ”kejadian asal yang suci” atau ”kesucian asal”. Secara kebahasaan, fithrah searti dengan khilqah, yaitu ciptaan atau penciptaan. Alloh sebagai Maha Pencipta adalah makna dari kata al-Khaliq atau al-Fathir. Dalam perkembangannya, istilah al-fithrah kemudian berarti “penciptaan yang suci”.

Dalam pengertian di atas, kata Nurcholis Madjid (2000), semua segi kehidupan seperti makan, minum, tidur dan apa saja yang wajar, tanpa berlebihan, pada manusia dan kemanusiaan adalah fithrah. Semua itu bernilai kebaikan dan kesucian karena semuanya itu berasal dari desain penciptaan Tuhan. Karena itu, berbuka puasa atau “kembali makan dan minum” setelah tadinya berpuasa juga disebut ifthar, yang secara harfiah dapat diartikan “memenuhi fitrah” yang suci dan baik. Dengan perkataan lain, makan dan minum adalah baik dan wajar pada manusia, merupakan bagian dari fitrahnya yang suci. Dari sudut pandang ini dapat dimengerti mengapa Islam tidak membenarkan manusia berusaha menempuh hidup suci dengan meninggalkan hal-hal yang wajar seperti makan, minum, tidur, berumah tangga dan lain sebagainya.

Dalam hadis sahih riwayat al-Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Rasulalloh Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Saya mendengar bahwa kamu (Abdullah bin ’Amr bin As) puasa sepanjang siang hari dan bangun untuk selalu salat malam? Benar, Ya Rasulalloh.
Beliau kemudian mengingatkan dengan sabdanya: ”Janganlah berbuat begitu, berpuasalah dan berbukalah, tidurlah dan bangunlah untuk salat malam, karena sesungguhnya bagi tubuhmu ada hak, bagi kedua matamu ada hak, bagi isterimu ada hak dan bagi tamu juga ada hak”.

Hadis di atas menerangkan bahwa segala tindakan manusia yang meninggalkan kewajaran hidup manusia adalah tindakan melawan fitrah. Berangkat dari pemahaman tentang arti Idul Fitri tersebut, dalam perayaan Idul Fitri -setelah selesai berpuasa selama bulan Ramadhan terkandung makna kembali kepada hakikat yang wajar dari manusia dan kemanusiaan, yaitu wajar untuk memenuhi keperluan makan dan minum sampai kembalinya manusia kepada fitrah dalam arti mentauhidkan Alloh Subhanahu wata’ala dan hanya ingin berbuat yang baik dan benar.
Fitrah terkait dengan hanif, artinya suatu sifat dalam diri manusia yang cenderung memihak kepada kebaikan dan kebenaran. Nabi saw bersabda:

الْبِرُّ مَااطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ ، وَاطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ ، وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي الْقَلْبِ، وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ

Kebaikan itu adalah sesuatu yang membuat hati dan jiwa merasa tenang, sedangkan dosa adalah sesuatu yang membuat hati gelisah dan menimbulkan kebimbangan dalam dada (HR. Ahmad dan lain-lain. Syekh Al-Albani menilai hadis ini hasan)

Karena itu, idul fitri dapat berarti kembali kepada hati nurani, yang hanya cenderung kepada kebaikan dan kebenaran sesuai dengan fitrahnya. Keadaan ini hanya bisa diraih oleh orang yang benar-benar telah melatih dirinya dengan ibadah puasa selama bulan Ramadan. Nabi Saw bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa melaksanakan ibadah puasa atas dasar iman dan penuh perhitungan, maka ia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lewat (HR. al-Bukhari dan Muslim)

*******

Idul Fitri berarti kembali kepada kesucian. Kesucian, kata Quraish Shihab (1992), adalah gabungan tiga unsur: benar, baik dan indah. Sehingga, seseorang yang ber-idul fitri dalam arti ”kembali ke kesuciannya” akan selalu berbuat yang indah, baik dan benar. Bahkan lewat kesuciannya itu, ia akan memandang segalanya dengan pandangan positif. Ia akan selalu mencari sisi-sisi yang baik, benar dan indah. Mencari yang indah melahirkan seni, mencari yang baik menimbulkan etika dan mencari yang benar menimbulkan ilmu.

Dengan pandangan demikian, ia akan menutup mata terhadap kesalahan, kejelekan dan keburukan orang lain. Kalaupun itu terlihat, selalu dicarinya nilai-nilai positif dalam sikap negatif tersebut. Dan apabila hal itu tak ditemukannya, ia akan memberinya maaf bahkan berbuat baik kepada orang yang melakukan kesalahan.

Karena itu, seiring datangnya Idul Fitri orang dianjurkan untuk saling bermaaf-maafan. Baik secara langsung dengan berjabat tangan atau sekadar mengirim ucapan melalui pesan singkat (SMS) atau status di media sosial (facebook atau twitter). Bila telah saling memaafkan, tentu akan membuat hati dan jiwa tenang karena tak ada lagi ganjalan kesalahan atau dosa terhadap orang lain.  

3 Syawal 1435 H

Sabtu, 31 Mei 2014

Mei

Tak terasa bulan Mei segera berakhir. Inilah bulan penuh penanda sejarah. Penuh luka berdarah bernanah. Penuh jerit tangis dan air mata. Ada kemungkinan banyak peristiwa yang secara kebetulan terjadi di bulan Mei. Dan, dari kemungkinan banyak itu, setidaknya yang melekat dalam ingatan dari generasi kakek-buyut sampai cucu-cicit masa mendatang ialah peristiwa 10 Mei 1963, 13 Mei 1969, dan 12 Mei 1998.
Matahari Departement Store (Mal Klender) dijarah lalu dibakar, banyak korban terpanggang sia-sia

10 Mei 1963, Peristiwa kerusuhan di hari Jumat. Konflik antara ‘geng’ yang beranggotakan mahasiswa etnis Tionghoa dan geng mahasiswa non Tionghoa di kampus Institut Teknologi Bandung (ITB). Konflik ini dipicu oleh persaingan  memperebutkan bangku kuliah ketika tiba saat pergantian jam mata kuliah. Pergantian jam mata kuliah diikuti pula pergantian ruang kuliah. Hal ini mengharuskan mahasiswa berpindah ruang atau gedung kuliah. Sehingga menciptakan tradisi booking kursi tempat duduk di antara geng-geng mahasiswa. Mahasiswa etnis Tionghoa karena memiliki sepeda motor cenderung lebih cepat sampai ke ruang/gedung tempat pindah kuliah. Hal ini menimbulkan rasa cemburu di kalangan mahasiswa non Tionghoa, sehingga muncullah sentimen rasial.

Pada mulanya sentiment rasial terjadi di kalangan mahasiswa intern ITB, tapi kemudian meluas ke kampus lainnya bahkan ke masyarakat umum. Para penggalang solidaritas anti Cina itu di antaranya adalah Siswono Yudohusodo (mahasiswa ITB yang juga aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia/GMNI),  Dedi Krishna (mahasiswa Kimia Teknik ITB dan  anggota Persatuan Mahasiswa Bandung/PMB), Abdul Qoyum Tjandranegara (mahasiswa Kimia Teknik ITB), Muslimin Nasution (mahasiswa Mesin ITB), Parlin Mangunsong (mahasiswa Universitas Padjadjaran/Unpad), Soeripto (mahasiswa Unpad sekaligus aktivis Gerakan Mahasiswa Sosialis/Gemsos) dan Rahman Tolleng (aktivis mahasiswa yang juga kader Partai Sosialis Indonesia/PSI). Tokoh-tokoh ini kemudian mengadakan serangkaian konsolidasi untuk memberikan suatu ‘pelajaran’ kepada mahasiswa-mahasiswa etnis Tionghoa di ITB secara masal.

Kekerasan ‘ala’ mahasiswa ITB itu kemudian menjelma menjadi kerusuhan masal yang mengambil sasaran warga Tionghoa di kota Bandung. Kawasan Dago, Braga, Asia-Afrika, hingga Otista (Jl Otto Iskandardinata) yang memang banyak dihuni warga Tionghoa menjadi sasaran amuk massa. Toko, rumah, dan aset  milik etnis Tionghoa dirusak. Huru hara ini merembet ke kota-kota lain di Jawa Barat seperti Sumedang, Tasikmalaya, Cirebon dan yang terparah di Cianjur dan Sukabumi.
Peristiwa ini menimbulkan banyak reaksi. PKI dan kelompok kiri lainnya dengan segera mengeluarkan pernyataan bahwa peristiwa ini adalah peristiwa rasialis kontra revolusioner yang didalangi oleh sisa-sisa Masjumi dan PSI. Demikian juga Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki) mempunyai pandangan yang sama. Sebaliknya Lembaga Pembinaan Kesatuan bangsa (LPKB) di bawah pimpinan Sindhunata mengeluarkan selebaran berisi pernyataan bahwa peristiwa ini disebabkan oleh prilaku orang Tionghoa yang eksklusif dan suka pamer kemewahan. Sudah tentu para pemimpin Baperki memprotes para pimpinan LPKB yang dianggap secara provokatif mengipasi kemarahan massa.

Peristiwa ini terjadi tidak lama setelah kunjungan Liu Shao Chi, Presiden RRT (Republik Rakjat Tjina) yang bertujuan mempererat hubungan kedua negara. Kunjungan ini adalah kunjungan kepala negara RRT yang pertama ke Indonesia. Anggota Baperki dan Partindo dikirim ke Cirebon untuk menolong korban kerusuhan dan menyelidiki sebab-sebab kejadian tersebut. Mereka menyimpulkan bahwa kerusuhan ini direkayasa oleh para aktivis PSI dan Masjumi. Mereka menggunakan isi pidato Presiden Soekarno sebagai sinyal bahwa orang Tionghoa adalah musuh golongan Islam. Di dalam pidato tersebut, Presiden Soekarno mengucapkan terima kasih kepada pemerintah RRT yang telah membantu pemerintah Indonesia dalam menumpas pemberontakan PRRI/PERMESTA.
*********
13 Mei 1969, peristiwa kerusuhan di Kuala Lumpur, Malaysia. Dipicu oleh kemenangan Democratic Action Party (DAP) —partai terbesar golongan Tionghoa— pada Pemilu yang diadakan 10 Mei di mana Dr Tan Chee Khoon memenangi kursi dengan kelebihan suara yang besar di kawasan Batu di Selangor. Atas kemenangannya itu, Dr Tan Chee Khoon meminta izin kepolisian untuk melakukan pawai kemenangan oleh Partai Gerakan Kebenaran.
Dan secara bersamaan namun tanpa izin kepolisian DAP (sama-sama partai oposisi) juga mengadakan pawai. Namun, arak-arakan peserta pawai menyasar ke distrik Melayu Kampong Bahru sambil mengolok-olok kekalahan Partai UMNO (United Malaysia National Organization) yang menguasai pemerintahan sebelumnya. Tak ayal, olok-olok terhadap UMNO memicu partai-partai oposisi yang ikut pawai membuat keonaran, sehingga pecahlah peristiwa 13 Mei 1969.
Itu hanya pelantar belaka. Pemicu sesungguhnya adalah ketidakadilan yang diperbuat Jepang yang menduduki Tanah Melayu. Jepang menganakemaskan warga Melayu dan mengabaikan warga keturunan Tionghoa karena memang pernah ada benih permusuhan antara Jepang dan China yang pernah terlibat peperangan. Ketidakadilan dalam perlakuan pendudukan Jepang ini melahirkan permusuhan antara orang-orang Melayu dan China.
*********
12 Mei 1998, peristiwa kerusuhan yang dikenal sebagai “Tragedi Trisakti”. Pemicunya adalah ketidaksenangan kalangan aktivis mahasiswa dipilihnya kembali Soeharto menjadi Presiden RI untuk masa jabatan periode 1998-2002 oleh MPR.     
Tak terasa dua windu sudah peristiwa 12 Mei 1998 berlalu meninggalkan jejak sejarah paling kelam di negeri ini. Meninggalkan kenangan buruk bagi keluarga syuhada Trisakti yang begitu mendambakan buah hati mereka menggapai cita-cita yang diidamkan. Sejarah tentang gejolak anak bangsa yang memberontak menuntut reformasi setelah jenuh deformasi.

Kerusuhan yang berlangsung beberapa hari tersebut telah banyak memakan korban jiwa dan materi. Bila dibandingkan dengan kerusuhan-kerusuhan sebelumnya, kerusuhan Mei 1998 merupakan kerusuhan terburuk yang pernah terjadi di Indonesia. Dalam kerusuhan tersebut, menurut TGPF (Tim Gabungan Pencari Fakta), korban meninggal sebanyak 1.217 orang, luka-luka 91 orang, dan hilang 31 orang. 4 orang Mahasiswa Universitas Trisakti tewas ditembak Aparat Militer. Mereka adalah Elang Mulyana Lesmana (19), Hery Hartanto (21), Hendriawan Sie (20), dan Hafidhin Royan (21). Keempat mahasiswa tersebut dikenang sebagai Pahlawan Reformasi.

Kerusuhan rasial di mana etnis Tionghoa diperkosa lalu dibunuh dan harta bendanya dijarah, toko-toko, bank, mal/supermarket dijarah dan dibakar. Tragedi ini menjadi babak baru sejarah Indonesia yang selama 32 tahun dibelenggu pemerintahan Orde Baru. Memang tak bisa dipungkiri, pemerintahan yang telah membuat kehidupan begitu nyaman dengan segala fasilitas subsidi yang diberikan dan harga komoditas yang dikondisikan tidak pernah bergerak naik maupun turun. Stabilitas. Ya, begitu paham yang dianut.

Namun, meski dinyamankan kondisi stabilitas yang terkendali, ketika krisis moneter sejak Juli 1997 yang melanda Thailand, Korea Selatan dan menyebar ke negara lainnya tak urung Indonesia terkena imbas juga. Kondisi harga mulai merambat naik tak terkendali, membuat masyarakat kelimpungan. Lalu, dari sinilah huru-hara dimulai. Krisis moneter itu memicu terjadinya krisis politik di dalam negeri, apalagi ketika Soeharto masih ngoyo untuk naik tahta kekuasaan pada Pemilu 29 Mei 1997.
Menghadapi demonstrasi yang bertubi-tubi dan kerusuhan yang tidak terkendali atas desakan dari berbagai elemen masyarakat termasuk tokoh-tokoh politik deklarator Ciganjur saat itu seperti Abdurachman Wahid (Gus Dur), Amien Rais, Megawati Soekarno Putri, Sultan Hamengkubuwono X, Emha ainun Nadjib (Cak Nun), Nurcholis Madjid (Cak Nur) dan lainnya mendesak Presiden Soeharto untuk segera turun dari jabatannya guna menghindari kerusuhan yang lebih besar, Ketua MPR Harmoko yang dua bulan sebelumnya meminta Soeharto untuk kembali memimpin Republik Indonesia karena alasan bahwa seluruh rakyat Indonesia masih menginginkan Soeharto untuk memimpin Indonesia, pada saat itu kembali menarik ucapan bahwa ternyata rakyat Indonesia sudah tidak menginginkan Soeharto untuk memimpin Indonesia dan mengharap Presiden Soeharto segera lengser keprabon.

Sebenarnya pendukung Soeharto saat itu sangat besar, namun untuk menghindari adanya korban jiwa dan materi yang semakin banyak, akhirnya pada tanggal 21 Mei 1998 pukul 09.00 Presiden Soeharto membacakan pidato tentang pengunduran dirinya dan secara konstitusional memberikan jabatan presiden kepada  Wakil Presiden BJ Habibie untuk melanjutkan tampuk kekuasaan di Indonesia. Dari pemerintahan Presiden Habibie inilah kemudian reformasi digulirkan dengan agenda-agenda perbaikan  di berbagai bidang kehidupan berbangsa baik sosial, politik, ekonomi, pendidikan maupun pertahanan dan keamanan.

Dan, yang paling menyita perhatian dunia adalah keputusan BJ Habibie membuka celah dilaksanakannya "memorandum" bagi rakyat Timor Timur untuk menentukan nasib apakah masih akan tetap bergabung ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) atau mendirikan negara merdeka. Hasil pemungutan suara menentukan mayoritas rakyat Timor Timur menginginkan memisahkan diri dari Indonesia dan mendirikan negara sendiri yang meredeka dan berdaulat. Maka, sejak itu Timor Timur bukan lagi merupakan salah satu provinsi yang ada dalam bagian NKRI.

dari berbagai sumber...

*********
Gema Seribu Bahasa

Mengenang: Elang Mulya Lesmana, Hery Hertanto,
Hendriawan Sie, Hafidin Royan.
syuhada tragedi Trisakti, 12 Mei 1998
juga: M. Yusuf Rizal dan Saidatul Fitriah
syuhada tragedi UBL Lampung, September 1997

sewindu sudah
bagi mereka mungkin begitu gampang melupakanmu
tapi tidak bagiku
tiap kali aku lewati
jalan aspal di mana tubuhmu tersungkur
aroma amis darah tercium lagi
tiap kali aku kecup
selongsong peluru yang dulu merebahkan tubuhmu
wangi rambutmu tercium lagi

sewindu sudah
selongsong peluru yang kupungut di depan kampus itu
kusimpan baik-baik
untuk mengenang jejak-jejak yang tertinggal
irama reformasi yang dulu mengalun kencang
kini hanya tinggal gema belaka
karena jalan yang dilaluinya berbelok ke mana-mana
sehingga tidak pernah sampai pada tujuan

sewindu sudah
alangkah cepat waktu menghapus tapak lars itu
dan oknum aparat yang dulu menghempaskan peluru
entah ke mana pergi dan di mana kini
kian jauh dari sentuhan hukum yang menggapai lunglai
yang tinggal, jejak sejarah yang terluka
kini perihnya kadang terasa
bila pikiran ibumu menziarahi kenangan masa kecilmu
bila sedu sedannya yang tertahan memecah sunyi
tiap kali menyeka beku embun yang menggenangi bingkai fotomu
dan desis lirihnya lewat angin yang mengusung mimpi
memetakan kembali apa yang diidamkannya
berfoto bersama saat kau diwisuda
dan kau mengabdi bagi ibu pertiwi dengan idealisme yang tinggi
tapi semua hanya angan yang melayapi sepi

sewindu sudah
mata ibumu membasah jika mengenang lagi:
semua temanmu sudah pada sarjana,
sudah pada bekerja, sudah pada berkeluarga,
tapi juga sudah pada lupa hakikat reformasi yang diperjuangkan,
karena sudah pada terjebak perangkap birokrasi,
hukum alam; selagi di luar teriak sampai parau,
begitu duduk di belakang meja diam seribu bahasa
apatis terhadap apa yang diperjuangkan saat unjuk rasa
terpacak diam di ujung kegalauan
getirnya dunia nyata tidak seperti teori yang diajarkan
apalagi di zaman yang semakin edan ini
sopo sing ora melu edan ora keduman

sewindu sudah
teman-temanmu coba mengenang lagi perjuangan dulu
akhirnya mereka menertawakan diri sendiri
menertawakan orang-orang yang terus berjuang
orang-orang yang terus merobohkan pagar gedung dewan
”ah… nanti kalian seperti saya,” desisnya
dulu teriak lantang, kini hanya bisa bungkam
omong kosong reformasi,
bila kehilangan esensi
omong kosong unjuk rasa,
selalu saja ada provokator mengacaukannya
negara milik mahasiswa saat unjuk rasa
selebihnya milik pemerintah yang berkuasa

Bandarlampung, Mei 2006