Sabtu, 26 Maret 2016

Mengenang Robert Koch

Tiap tanggal 24 Maret, dunia Tuberkolosis (TBC) memperingati ulang tahun ditemukannya basil TBC. Berarti juga mengingatkan peristiwa ketika Robert Koch menyampaikan ceramah di hadapan kelompok kecil cendekiawan di Institute of Hygiene, Universitas Berlin, dengan judul "Die Aetiologie der Tubercolose" (sebab-sebab/asal usul tuberkolosis).
Robert Koch
Sebelum ceramah perihal penyakit TBC, pada tahun 1876, sebagai seorang dokter umum di Wollstein, Polandia, Koch telah menjelaskan perjalanan penyakit Anthrax (penyakit yang disebabkan oleh Bacillus anthracis, terutama pada binatang), membuat biakan dan menimbulkan spora-spora berkembang dan menyebar.
Pada waktu itu TBC tidak saja merupakan penyakit rakyat di Eropa, tetapi juga masih merupakan "dunia yang gelap" bagi ilmu kedokteran. Sebagian teori mengatakan, bahwa TBC adalah suatu pertumbuhan tubuh hang abnormal (neoplastic). Teori-teori ini secara tiba-tiba berubah, ketika Robert Koch berpendapat, bahwa penyebab penyakit ini dapat ditunjukkan dengan pemeriksaan kultur (biakan) dan bahkan percobaan binatang.
Robert Koch melakukan penelitian hanya delapan bulan, namun cukup lengkap dan komprehensif. Atas prestasinya dalam penelitian itu, pada tahun 1905 dia memenangkan hadiah Nobel untuk kedokteran.
Hasil penelitian Robert Koch itu kemudian menjadi landasan bagi Calmette dan Guerin untuk melakukan riset, yang kemudian menemukan vaksin BCG (Bacillus Calmette Guerin) yaitu vaksin untuk mencegah TBC pada tahun 1921.
Sejarah TBC kemudian berkembang dengan cepat dan mengubah anggapan-anggapan lama serta menumbuhkan konsep-konsep baru dalam mengatasi penyakit ini. Pada tahun 1895, Rontgent menemukan sinar X di Vienna. Untuk pertama kali kelainan dalam paru-paru oleh TBC dapat diketahui dengan alat tersebut, meskipun diagnostik yang pasti dari TBC tetap memerlukan konfirmasi pemeriksaan mikroskop untuk menemukan basil TBC.
Pada tahun 1944, untuk pertama kalinya antibiotika yang efektif ditemukan, yaitu streptomycine oleh Selman AA. Waksman di Amerika yang kemudian menerima hadiah Nobel pada tahun 1952. Obat-obat anti TBC yang murah dan efektif baru ditemukan tahun 1946-1953, ketika INH (Isoniazif) dan PAS (Para Amino Salycitic Acid) ditemukan. Menyusul kemudian Rifampicin (1966) dll.
Dengan demikian dewasa ini kita sudah memiliki alat-alat pencegahan, pengobatan dan diagnostik yang lengkap bagi TBC. Tetapi, sejak basil TBC ditemukan pada 24 Maret 1882 (lebih dari 100 tahun lalu), jumlah penderita  TBC justru terus meningkat. Padahal, semestinya dengan ditemukannya obat-obat anti TBC dan vaksin BCG, penyembuhan penderita TBC bisa lebih cepat. Faktanya sangat lamban dan bahkan cenderung tak berhasil tuntas. Salahnya di mana? Mungkin pada lemahnya kedisiplinan penderita dalam mengonsumsi obat secara tetatur dan tanpa putus, serta abainya keluarga dan lingkungannya dalam mengawasi.
Jadi, mari belajar berdisiplin. "Defeat TB, now and forever."

Senin, 15 Februari 2016

1000 Fenomena Edisi 10

Bupati Pacitan Indartato ini saya jadikan topik bahasan untuk postingan kali ini. Latar belakang dirinya yang kurang beruntung, cukup fenomenal. Dari Sopir Bupati bisa menjadi Bupati. Sabtu (13/02/2016) lalu Indartato dihadirkan sebagai bintang tamu acara Kick Andy di Metro TV, di sana terkuak cerita yang cukup menggugah tentang latar belakang dirinya yang begitu fenomenal.


Drs H Indartato MM
Masa kecilnya sebagai anak pamong praja membuat sosok kelahiran Ponorogo, 27 September 1954 terbentuk menjadi sosok sederhana. Penghasilan orang tuanya yang terakhir memegang jabatan wedono atau pembantu bupati relatif pas-pasan kala itu. Akibatnya, Indartato muda harus menahan keinginannya untuk melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah.

Selain dikenal lugas, putra pasangan Sudarmanto – Kasiati ini juga tidak muluk-muluk. Cita-citanya pun hanya ingin menjadi sopir. Keinginan itu bukan tanpa alasan. Di mata Indartato muda yang tinggal di Kecamatan Ngadirojo, Pacitan, profesi sopir merupakan simbol kemakmuran. Di saat kebanyakan orang baru bisa menikmati nasi thiwul (nasi berbahan baku ketela, red) sebagai santapan sehari-hari, para sopir sudah bisa menyantap nasi beras di warung.

”Dari waktu kecil saya jarang makan enak. Teman-teman bisa makan nasi putih keluarga saya makan tiwul. Itupun masih harus dibagi dan makannya bersama-sama,” ungkap Indartato, saat ditemui di rumahnya, Selasa (21/12/2010).

Dorongan itu yang membuat Indartato memberanikan diri belajar mengemudi. Atas jasa tetangganya yang memiliki kendaraan angkutan jenis pick up, Indartato belajar menguasai kendaraan hingga akhirnya berhasil memperoleh Surat Ijin Mengemudi. Bermodal keterampilan itu, dia lalu mencoba mengadu nasib dengan melamar pekerjaan di Pemkab Pacitan.

Pak In membentangkan tangan di depan Seruling Samudra Pantai Kalayar
Rupanya, nasib baik memang berpihak padanya. Berbekal ijazah SMA, pada tahun 1975 Indartato diterima bekerja menjadi tenaga harian. Setahun kemudian, posisinya dinaikkan setingkat lebih tinggi menjadi tenaga harian tetap dengan posisi baru sebagai sopir bupati yang saat itu dijabat Mohammad Kusnan. Sejak saat itulah karier Indartato terus merangkak naik. Tahun 1978 Bupati Kusnan memberinya kesempatan tugas belajar ke Akademi Pendidikan Dalam Negeri (APDN).

Indartato mengawali kariernya pada jabatan struktural sebagai Camat Pringkuku pada tahun 1984. Saat itu usianya baru 30 tahun, usia termuda untuk seorang camat. Karena tuntutan jabatan, posisinya terus berpindah-pindah dari satu instansi ke instansi yang lain. Terakhir, bapak 3 anak, hasil perkawinannya dengan Luki Tri Baskoro Wati memangku jabatan Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan hingga pensiun tahun 2010.

Seperti diketahui, hasil sementara penghitungan cepat versi Tim Koordinasi Dukungan Penyelenggaraan Pemilukada Pacitan menunjukkan, pasangan Indartato – Prayitno yang diusung partai Demokrat, PKS, PPP dan Partai Hanura meraup 186.590 suara atau (65,48 persen) dari total suara sah sebanyak 284.967. Jika hasil rekapitulasi manual oleh KPU tanggal 26 Desember mendatang memberikan hasil yang sama, Indartato akan memikul tanggung jawab besar, mengemudikan kendaraan besar bernama Pemerintah Kabupaten Pacitan.

”Yang penting, jadi sopir itu penumpangnya harus bisa tidur nyenyak. Artinya tidak ada rasa khawatir, rewel apalagi mabuk,” pungkasnya berfislosofi.

BIODATA INDARTATO
Tempat Tanggal Lahir:
Ponorogo, 27-9-1954
Alamat : Jl. Yos Sudarso 10 Kec/Kab. Pacitan
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Agama : Islam
Status Perkawinan : Kawin
Keluarga:
Istri : Luki Tri Baskorowati
Anak : 1. Eko Prasetyo Wahyudiarto, 2. Yanu Prasetyawan, 3. Asri Rizekiana

RIWAYAT PENDIDIKAN:
SD : SD Negeri Tulakan (lulus tahun 1967)
SMP : SMP Negeri Lorok (Lulus tahun 1970)
SMA : SMA Negeri Pacitan (Lulus tahun 1973)
Diploma : APDN (Lulus tahun 1981)
SI : Universitas Muhammadiyah Malang
(Lulus tahun 1989)
S2 : STIE Mitra Indonesia Yogyakarta (Lulus tahun 2000)

RIWAYAT PEKERJAAN/JABATAN:
1. Staf Sekretaris Pemda Kabupaten Pacitan (1976-1978)
2. Tugas Belajar APDN (1978-1981)
3. Mantri Pol PP Kecamatan Punung (1982-1984)
4. Camat Pringkuku (1984-1988)
5. Camat Arjosari (1988-1991)
6. Plh. Kabag Pembangunan (1990-1991)
7. Kabag Perekonomian (1991-1992)
8. Kabag Pembangunan/Penyusun Program (1992-1997)
9. Kepala DInas Pendapatan (1997-2002)
10. Kepala BAPPEDA (2003-2006)
11. Kepala Diperindag, Sumberdaya Energi (2006-2007)
12. Kepala Balitbang (2007-2008)
13. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (2008-2010)
14. Purna Tugas/Pensiun (1 Oktober 2010)
15. Bupati Pacitan (periode 2011-2016)
16. Bupati Pacitan (periode 2016-2021) – terpilih lagi pada Pemilukada serentak 9 Desember 2015 lalu.

RIWAYAT ORGANISASI:
1. Sekretaris Komcat Golkar Kecamatan Punung (1982-1984)
2. Ketua Unit Korpri Kecamatan Pringkuku (1984-1988)
3. Ketua Unit Korpri Kecamatan Arjosari (1988-1991)
4. Pengurus Korpri Kabupaten Pacitan (Sekarang)
5. Wakil Ketua HKTI Kabupaten Pacitan (1988-2000)
6. Bendahara DPP Partai Golkar Pacitan (1993-1997)
7. Ketua DPC Partai Demokrat Pacitan (Sekarang)
8. Pengurus Kwarcab Pramuka Kab. Pacitan (2004- )
9. Ketua IKAPTK Propinsi Jawa Tumur (2012- )
10. Ketua Yayasan K.W.C (2006 – )

Senin, 25 Januari 2016

Isyarat Kematian 2

Hari ini, Senin, 25 Januari, tepat 30 hari kepulangan Abuya HMI ke Haribaan Ilahi Rabbi. Kepergiannya di malam seusai siangnya memimpin Rapat Tahunan Group Perusahaan (PT Haga Media Indrajaya) penerbit koran LE, yang dihadiri KKLE (Kerabat Kerja LE) beserta person dari group, yaitu Harian Ekspres dan Harian OKU Raya Ekspres.

Dua hari sebelumnya, tepatnya Kamis, 24 Desember 2015, Abuya HMI mengumpulkan para Kabag dan Redaktur untuk rapat intern persiapan rapat tahunan. Di hari itu beliau sudah mengutarakan bahwa di tahun 2016 tidak akan ikut lagi mengurus manajemen perusahaan, Alasannya, akan rehat dan menyerahkan sepenuhnya kelanjutan usaha kepada para KKLE.

Pada rapat akhir tahun perusahaan, hari Sabtu, 26 Desember 2015, Abuya HMI kembali menegaskan akan mundur dari kegiatan memimpin perusahaan. Secara berseloroh beliau berkata, dirinya mungkin akan mondok di Pesantren di Jawa sana. Semua karyawan yang hadir di rapat tersebut sepenuhnya hanya menyimak uraian panjang lebar darinya. Tak ada yang bisa menerjemahkan dalam pengertian lain apa yang diucapkannya sebagai pertanda untuk istirahat selamanya dari kehidupan.

Baru setelah sekira menjelang pukul 23 WIB rantaian informasi sambung menyambung menyebar lewat pesan SMS dan BBM, mengabarkan kalau Abuya HMI telah mengembuskan napas terakhirnya tadi pada pukul 22.46 WIB di RS Urip Sumoharjo. Barulah terlintas di pikiran, terutama saya, bahwa apa yang dikatakan Abuya di ruang rapat, terselip bahasa isyarat bahwa dirinya di tahun 2016 tidak akan ikut lagi mengurusi perusahaan, karena akan isirahat selamanya dari kehidupan duniawi.

Hari itu, semua urusan telah diselesaikannya. Bahkan sejak jauh hari, sudah ditampakkan pesan-pesan atau isyarat kematian itu. Di antaranya, Abuya minta kepada staf administrasi untuk membingkai semua foto dirinya, merapikan file-file dan dokumen. Tentu saja para staf dengan senang hati menuruti apa keinginan beliau tanpa pernah menduga-duga apa yang akan terjadi sesudahnya.

Seperti yang sudah saya posting dengan judul Si Astral itu Bikin Baper bahwa malam Senin, 27 September 2015, sekira pukul 23.32 tiba-tiba saya mencium bau Kapur Barus yang begitu menyengat. Saya yang tinggal sendirian di ruang redaksi tentu saja merinding dan penuh tanda tanya, pertanda apa itu, isyarat apakah gerangan itu.

Setelah saya hitung waktunya antara kejadian ada aroma Kapur Barus tersebut dengan tanggal meninggalnya Abuya HMI, persis 3 bulan. Tetapi, apakah itu sebagai bahasa yang bisa diterjemahkan sebagai isyarat kematian? Wallahu alam. Hanya Allah Swt pemilik keindahan bahasa Al-Quran dan di dalam Kitab Suci tersebut telah jelas bahwa kematian itu adalah kepastian yang niscaya akan datang. Namun, tidak bisa disegerakan dan tidak juga bisa ditunda kedatangannya.

Jadi, mungkin saja aroma Kapur Barus di tengah malam itu sebagai isyarat kematian, bila dihubungkan bahwa tak begitu lama sesudahnya (3 bulan) Abuya HMI dipanggil menghadap Ilahi Rabbi. Tetapi, baru bisa diterjemahkan atau dihubungkan setelah ada kejadian. Begitulah, sesungguhnya ilmu pengetahuan manusia begitu terbatas, tidak bisa menjangkau apalagi melampaui apa pun yang belum terjadi.