Jumat, 10 Juni 2016

Muhammad Ali

Petinju legendaries Muhammad Ali meninggal dunia hari Jumat (3/6/2016), tiga hari menjelang tibanya bulan Ramadan, bulan penuh berkah, maghfiroh, dan pembebasan dari api neraka bagi yang menunaikan puasa imanan (dilandasi keimanan) wahtisaban (semata-mata mengharap ridlo Alloh Swt).
Peti Jenazah Muhammad Ali didorong menuju tempat disalatkannya

Sahdan, meninggal di hari Jumat, disebut sebagai salah satu dari tanda husnul khotimah. Ganjarannya adalah dibebaskan dari siksa kubur.
Jenazah Muhammad Ali siap untuk disalatkan

Ali baru dimakamkan seminggu kemudian dari hari meninggalnya. Hal ini menimbulkan pertanyaan banyak pihak, mengingat Ali sebagai seorang muslim dan dalam ajaran Islam orang yang meninggal sebaiknya segera dimakamkan setelah dinyatakan meninggal dunia.

Alasan mengapa Ali baru dimakamkan sepekan kemudian, menurut pemberitaan BBC, Selasa (7/6/2016). Disebutkan prosesi jenazah dan pemakaman Muhammad Ali akan dilangsungkan dalam sebuah upacara besar antariman namun dalam tradisi Islam hari Jumat (10/6/2016). ”Hal ini dimaksudkan untuk memungkinkan siapapun dari seluruh dunia untuk mengucapkan selamat tinggal,” papar pernyataan keluarganya.

Antar iman ini maksudnya, selain disalatkan secara Islam sesuai agama yang dianut Muhammad Ali. Juga ada prosesi pemanjatan doa oleh empat imam dari empat agama, yaitu Islam, Yahudi, Kristen, dan aliran kepercayaan suku asli American Indian.

Ada 17 iring-iringan kendaraan yang mengawal mobil jenazah yang mengantarkan almarhum Muhammad Ali ke tempat pemakamannya di Cave Hill di kota kelahirannya tahun 1942 di Louisville, Kentucky.
Kendaraan yang membawa peti jenazah Muhammad Ali berjalan paling depan dari iring-iringan 17 kendaraan lainnya.

Sepanjang jalan yang dilalui, sejak dari Kentucky (tempat Ali dilahirkan) dan di mana dia tumbuh besar dan bermain, kerumunan warga memberikan penghormatan terakhir, dengan meneriakkan namanya dan melemparkan bunga ke arah mobil jenazah.
Muhammad Ali sangat dicintai fansnya, di mana dia berada selalu dielu-elukan namanya... Ali, Ali, Ali...

Konon, 14 ribu tiket terjual untuk prosesi pemakaman Ali.
Tiket Jenazah Prayer Service pada pemakaman Muhammad Ali

Yang istimewa adalah ada acara nobar (nonton bareng). Ini untuk pertama kalinya di dunia dalam hal pemakaman. Sebab, umumnya nobar dihelat dalam hal, misalnya, pertandingan bola atau balap mobil/motor.

Sosok Ali adalah orang tua yang mencintai anak-anak. Tidak hanya anak kandungnya, tapi juga anak-anak pada umumnya.
Muhammad Ali begitu sayang terhadap anak-anaknya

Karena besarnya cintanya pada anak-anak dan perhatiannya pada perdamaian, tidak aneh manakala Ali meninggal, cinta dan perhatian itu tercurah dari warga masyarakat Amerika, apa pun warna kulit dan agama (keyakinannya), yang antusias memberikan penghormatan terakhir baginya.

Rabu, 11 Mei 2016

Masih Ada Polisi yang Baik


Senin (9/5), di ujung limit waktu pembayaran pajak motor yang jatuh tempo tanggal 10 Mei, saya ajukan hasik cek fisik yang dilakukan anak saya Abi di Solo, ke loket pengesahan cek fisik. Ada dua anggota polisi yang bertugas di dalam loket. Melihat kejanggalan yang ada di form hasil cek fisik tersebut. Di mana pada kolom-kolom yang seharusnya dicontrengi oleh petugas yang melakukan cek fisik, itu saya sendiri yang mencontrengi dan sekaligus membubuhkan paraf di sudut kiri bawah. Kontan salah satu dari kedua polisi jaga itu bertanya, ”Cek fisik di mana ini, Pak?” Langsung saja saya jawab, ”Di Jawa, Pak” sembari menambahkan ”Itu motor tanggung waktunya kalau mau dipulangkan ke Lampung, sebab anak saya sedang menyelesaikan Tugas Akhir (Skripsi). Jadi, saya pikir jalan tengah yang bisa ditempuh yaitu saya suruh anak saya yang menggesek nomor rangka dan nomor mesinnya. Itulah hasilnya.”

”Ini yang nandatangan siapa,” tanyanya lagi. ”Saya sendiri,” jawab saya sembari membayangkan bakal terjadi kegagalan total dalam upaya yang sebenarnya jalan yang ditempuh memang benar tapi di luar standar aturan baku.
inilah form hasil cek fisik yang saya contrengi dan paraf sendiri

”Ya, sudah tunggu dulu di sana,” perintah mereka. Saya pun menurut dan beringsut menunju kursi tunggu di samping loket dekat ruang fotokopi. Menunggu dengan sabar, apa pun yang akan terjadi. Tapi, di benak saya terlintas sosok anggota polisi, dia tetangga yang juga biasa jamaah bareng di masjid dalam ritual salat Maghrib, Isya dan Subuh. Pikir saya, kalau dua polisi yang bertugas di dalam loket mempersulit dan ogah mengesahkan hasil gesekan cek fisik yang sudah benar tapi di luar standar prosedur tersebut, terpaksa harus minta bantuan tetangga anggota polisi yang tadinya juga biasa bertugas di bagian pelayanan di dalam gedung Samsat, tapi sudah dipindah ke Ditlantas di seberang Samsat.
   
Menegakkan Kejujuran itu Memang Berat

Modal Bismillah dan kejujuran. Itulah yang saya lakukan hari itu. Terus terang, saya menyadari akan menemukan kesulitan. Karenanya, hanya dengan bismillah saya jalankan upaya menyelesaikan kewajiban kepada negara untuk menjadi warga negara yang taat membayar pajak. Dan, ketaatan lain yang harus saya upayakan menjalankannya, adalah menegakkan kejujuran. Sepotong ucapan pun tak mau saya palsukan di depan petugas loket. Karenanya, ketika polisi itu tanya cek fisik di mana, saya jawab dengan jujur. Begitu juga ketika ditanyakan siapa yang nandatangan, juga saya jawab jujur.

Landasan untuk menegakkan kejujuran itu sesuai tuntunan Rasulullah Saw. Sabda beliau; Sesungguhnya dusta mengantarkan kepada kefajiran, dan kefajiran mengantarkan kepada neraka. (HR. Bukhari nomor 6094 & Muslim nomor 2607).

Alhamdulillah, sesudah menunggu beberapa saat, akhirnya nama saya dipanggil dan mereka sodorkan berkas pengurusan pembayaran pajak motor. Saya lihat form hasil cek fisik sudah dilegalisasi dan dibubuhi paraf berikut stempel. Setelah menghaturkan ucapan terima kasih kepada kedua anggota polisi yang baik hati itu, saya bergegas ke gedung Samsat. Setelah dikasih map dan dirapikan kembali berkasnya, kemudian disuruh ke gudang arsip. Akhirnya, harus menunggu hampir satu jam untuk verifikasi berkas. Setelah memberikan ’uang kopi’ sesuai permintaan ’seikhlasnya’ saya disuruh ke loket BRI untuk bayar biaya plat nomor dan STNK sebesar Rp80.000. Sebenarnya yang dimintai uang kopi itu orang yang dilayani sebelum saya, tapi karena saya juga menikmati pelayanan yang baik, jadi saya pun ikut memberikan sekedar untuk mereka bisa ngopi ngudut. 
seperti ini suasana kerumunan pengantre pelayanan di depan pintu gudang arsip

Jangan heran, selalu begitu suasana antre di negeri tercinta ini, mengerumun tak beraturan. Tak bisa sepenuhnya disalahkan, sebab kondisinya memang menuntut untuk lebih dekat ke pintu. Alasannya, suara panggilan petugas alakadarnya, karena tak didukung pengeras suara (megaphone) sekelas TOA. Jadinya, nama orang yang disebut dalam panggilan hanya terdengar sayup sampai. 

Dari sela kerumunan massa, dengan jelas telinga saya menangkap celetukan seorang bapak paruh baya. Begini katanya; mestinya pake pengeras suara, masa nggak bisa ngadain sih, paraaah... Namun, beruntung ada lagi orang baik hati selain dua anggota polisi yang tidak saya cermati siapa nama dan apa pangkatnya, di dalam loket tempat legalisasi hasil cek fisik tadi.

Di dekat pintu gudang arsip, persis berdiri seorang ibu berseragam Pemkot (itu lho yang berkerudung warna kuning), dengan kemauan sendiri ibu itu menyebut ulang nama sesiapa yang dipanggil. Tapi, lama-lama terkesan tidak tulus, karena orang-orang yang dipanggil tidak menghargai bantuannya, misalnya dengan menjawab ya, saya, atau siap 86 gitu.... Apa yang salah di masyarakat, ekspektasi begitu mahal harganya.

Akhirnya, karena ketulusannya kurang atau tidak direspon dengan baik, si ibu itu nyeletuk begini; ai, sudahlah, gak usah dibantu, orang yang dipanggil diam aja... Meskipun akhirnya toh masih juga dilanjutkannya menyebut ulang nama orang yang dipanggil. Dalam hati saya berujar; bisa jadi ibu itu di Pemkot pekerjaannya biasa melayani. Jadi, apa yang dia lakukan itu naluriah. Kan kasihan juga kalau dilewatkan oleh Pak Polisi yang manggil dari dalam, padahal sudah ngantre lama.

Proses yang saya jalani dilanjutkan ke loket 1A, berkas diajukan ke bagian print out STNK baru, disuruh menunggu untuk saatnya nanti dipanggil dan disuruh bayar pajak di loket Bank Lampung, untuk kemudian kembali masih harus menunggu panggilan ketika STNK baru sudah selesai sekaligus menandai semua urusan klar alias beres dan bisa pulang. 

Sambil beranjak dari tempat parkir untuk pulang setelah semua proses dapat selesai dengan baik, saya berujar lirih dalam hati, masih ada polisi yang baik. Karena, pada dasarnya yang berperilaku tidak baik adalah oknum. Alhamdulillah, saya semakin dicerahkan ketika bertemu orang-orang baik, seperti dua anggota polisi di loket cek fisik dan ibu PNS Pemkot itu.

Ketika istri yang sedang dalam perjalanan dari liburan ke Jawa nge-SMS menanyakan apakah proses STNK sudah selesai, saya balas SMS-nya dengan menulis Alhamdulillah ada polisi yang baik hati, semoga mereka dimuliakan Alloh, hampir aja mati pajak” Istri membalas ”Alhamdulillah mg Alloh membalas kebaikannya” Aamiin Ya Rabbal alamin.
               

Sabtu, 26 Maret 2016

Mengenang Robert Koch

Tiap tanggal 24 Maret, dunia Tuberkolosis (TBC) memperingati ulang tahun ditemukannya basil TBC. Berarti juga mengingatkan peristiwa ketika Robert Koch menyampaikan ceramah di hadapan kelompok kecil cendekiawan di Institute of Hygiene, Universitas Berlin, dengan judul "Die Aetiologie der Tubercolose" (sebab-sebab/asal usul tuberkolosis).
Robert Koch
Sebelum ceramah perihal penyakit TBC, pada tahun 1876, sebagai seorang dokter umum di Wollstein, Polandia, Koch telah menjelaskan perjalanan penyakit Anthrax (penyakit yang disebabkan oleh Bacillus anthracis, terutama pada binatang), membuat biakan dan menimbulkan spora-spora berkembang dan menyebar.
Pada waktu itu TBC tidak saja merupakan penyakit rakyat di Eropa, tetapi juga masih merupakan "dunia yang gelap" bagi ilmu kedokteran. Sebagian teori mengatakan, bahwa TBC adalah suatu pertumbuhan tubuh hang abnormal (neoplastic). Teori-teori ini secara tiba-tiba berubah, ketika Robert Koch berpendapat, bahwa penyebab penyakit ini dapat ditunjukkan dengan pemeriksaan kultur (biakan) dan bahkan percobaan binatang.
Robert Koch melakukan penelitian hanya delapan bulan, namun cukup lengkap dan komprehensif. Atas prestasinya dalam penelitian itu, pada tahun 1905 dia memenangkan hadiah Nobel untuk kedokteran.
Hasil penelitian Robert Koch itu kemudian menjadi landasan bagi Calmette dan Guerin untuk melakukan riset, yang kemudian menemukan vaksin BCG (Bacillus Calmette Guerin) yaitu vaksin untuk mencegah TBC pada tahun 1921.
Sejarah TBC kemudian berkembang dengan cepat dan mengubah anggapan-anggapan lama serta menumbuhkan konsep-konsep baru dalam mengatasi penyakit ini. Pada tahun 1895, Rontgent menemukan sinar X di Vienna. Untuk pertama kali kelainan dalam paru-paru oleh TBC dapat diketahui dengan alat tersebut, meskipun diagnostik yang pasti dari TBC tetap memerlukan konfirmasi pemeriksaan mikroskop untuk menemukan basil TBC.
Pada tahun 1944, untuk pertama kalinya antibiotika yang efektif ditemukan, yaitu streptomycine oleh Selman AA. Waksman di Amerika yang kemudian menerima hadiah Nobel pada tahun 1952. Obat-obat anti TBC yang murah dan efektif baru ditemukan tahun 1946-1953, ketika INH (Isoniazif) dan PAS (Para Amino Salycitic Acid) ditemukan. Menyusul kemudian Rifampicin (1966) dll.
Dengan demikian dewasa ini kita sudah memiliki alat-alat pencegahan, pengobatan dan diagnostik yang lengkap bagi TBC. Tetapi, sejak basil TBC ditemukan pada 24 Maret 1882 (lebih dari 100 tahun lalu), jumlah penderita  TBC justru terus meningkat. Padahal, semestinya dengan ditemukannya obat-obat anti TBC dan vaksin BCG, penyembuhan penderita TBC bisa lebih cepat. Faktanya sangat lamban dan bahkan cenderung tak berhasil tuntas. Salahnya di mana? Mungkin pada lemahnya kedisiplinan penderita dalam mengonsumsi obat secara tetatur dan tanpa putus, serta abainya keluarga dan lingkungannya dalam mengawasi.
Jadi, mari belajar berdisiplin. "Defeat TB, now and forever."