Jumat, 30 Juni 2017

Balik

Peta jalan tol Trans-Jawa yang menghubungkan Merak-Banyuwangi

Pada postingan sebelumnya, saya membahas mengenai ’mudik’. Yaitu pulang kampung yang dilakoni para perantau dari desa (kampung) yang bekerja di kota. Mudik hanya bisa dilakoni saat libur lebaran Idul Fitri. Di luar waktu itu, sangat mustahil bisa leluasa pulang. Terkecuali izin yang sifatnya urgensi, misalnya ada anggota keluarga yang wafat atau menikah. Atau mungkin sakit dan dalam perawatan di rumah sakit.
Kendaraan antre untuk naik ke kapal di Pelabuhan Merak, Banten (Foto: Kompas.Com)

Setelah ada ritual (arus) mudik tentu ada pula (arus) balik. Nah, kali ini saya akan mengulik mengenai ’balik’ ini. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ada beberapa pengertian ’balik’, di antaranya; kembali (arahnya), pulang, sisi sebelah belakang. Dalam konteks lebaran, setelah mudik (pulang kampung) usai dilakoni, tentu para pekerja akan balik (kembali) ke arah semula, yaitu tempat mereka bekerja.

Mudik maupun balik para pekerja pada musim libur lebaran tahun 2017 ini jauh mengalami perubahan dibanding tahun 2016. Pasalnya, tahun ini jalan tol yang pada tahun kemarin hanya sampai atau exit di Brebes Timur, maka pada tahun ini sudah ada ruas tambahan dari Brebes Timur hingga Gringsing (Batang). Dengan demikian, kendaraan pemudik tidak lagi mengalami kemacetan di exit tol Brebes Timur (Brexit).
Kendaraan pemudik berderet di jalan tol Cikarang (Foto: Akurat.Com)

Panjang jalan tol ruas Brebes Timur hingga Gringsing ada 110 kilometer. Gringsing-Batang (36 kilometer). Walaupun pada musim mudik dan balik lebaran tahun 2017, statusnya masih jalan fungsional karena belum dilengkapi penerangan, maka hanya digunakan pada siang hari. Saat arus mudik diberlakukan satu arah menuju timur, dan saat arus balik hanya satu arah menuju barat. Meski darurat, cukup memadai untuk mengurai penumpukan kendaraan agar tidak macet.

Ke depan, musim mudik dan balik lebaran tahun yang akan datang, akan semakin nyaman seiring kian menyatunya jalan tol Trans Jawa (Merak-Banyuwangi). Dari Merak hingga Cikampek sejak lama dirasakan nikmatnya jalan tol. Walau harus mengalami macet di jalan pantai utara (pantura) Cikampek-Cirebon, namun dari Palimanan hingga Kanci bisa kembali memacu kendaraan di jalan tol sepanjang 26 kilometer. Tol ini masa pembangunan 1990-1998 dan mulai dioperasikan tahun 1997. Pintu gerbangnya ada di Plumbon, Ciperna dan Kanci (Cirebon).

Memupus Pantura

Setelah jalan tol ruas Cikopo-Palimanan (Cipali) sepanjang 116 kilometer yang mulai dibangun 2011 dan selesai pada 2015, diresmikan pada 13 Juni 2016 mulai dioperasikan pada musim mudik lebaran 2016, praktis kemacetan berjam-jam di jalan pantura tidak akan dirasakan lagi. Jalan tol ini menyambungkan ruas Jakarta-Cikampek dengan ruas Palimanan-Kanci (Palikanci). Pupus sudah jalan pantura, hanya akan tinggal kenangan.

Dengan beroperasinya jalan tol Cipali, maka Jakarta-Palimanan sejauh 189 kilometer tersambung oleh jalan tol. Mereka yang menyeberang dari Pulau Sumatera, begitu kendaraannya keluar dari lambung kapal fery bisa langsung masuk jalan tol Merak-Jakarta. Kemudian bisa dilanjutkan Jakarta-Cikampek (73 kilometer) dan terus disambung ke Cikopo-Palimanan (116 Km), Palimanan-Kanci (26 Km) serta Kanci-Pejagan (35 Km).
Pemudik motor yang berjumlah ribuan selalu jadi pemandangan mengerikan pada arus mudik dan balik lebaran.
(Foto: dok. Kompasiana)

Belum selesai di ruas Palikanci. Perjalanan masih akan dimanjakan jalan tol ruas Pejagan-Brebes, yang pada musim mudik lebaran 2016 mencatatkan sejarah buruknya wajah transportasi negara ini. Para pemudik dicekam horor karena kendaraannya terkunci di satu titik (gridlock) selama 12 jam. Kemacetan sepanjang 20 kilometer itu menciptakan malapetaka dengan 18 korban meninggal dunia akibat kelelahan dan dehidrasi.

Tragedi memilukan itu lalu terkenal dengan sebutan ’Horor Brexit’. Penyebabnya karena selepas Exit Tol Brebes Timur (Brexit) kendaraan dihadapkan pada jalan arteri yang kecil dan tidak mampu menampung ribuan kendaraan yang keluar gerbang. Tidak jauh dari sana ada Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dan pintu perlintasan kereta api yang setiap 20 menit sekali harus ditutup karena ada kereta yang akan lewat.

Faktor kedisiplinan pengendara motor yang rendah adalah penyebab lainnya. Banyak yang menyerobot antrean lajur menuju SPBU, sehingga lajur yang dapat digunakan satu lajur contra flow (arus balik) menjadi bertambah sehingga mengurangi lajur berlawanan dan membuat arus kendaraan semakin terkunci. Nah, pada lebaran tahun 2017, arus mudik maupun balik keadaannya lancar jaya. Tak ada lagi derita kemacetan berjam-jam. Kalau mudiknya asiik, maka balik pun asiiik. n


Selasa, 27 Juni 2017

Mudik

mudik atau pulang kampung, adalah masa yang ditunggu para perantau yang bekerja di kota untuk kembali bertemu keluarga yang lama ditinggalkan di desa (kampung). 

Pemerintah Orde Baru di bawah Presiden Soeharto mengonsentrasikan pembangunan yang bertumpu hanya pada dua kutub. Pertama, Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi). Kedua, Gerbangkertosusilo (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo dan Lamongan). Dampak yang ditimbulaknnya adalah derasnya arus urbanisasi ke sentra industi di kota-kota tersebut. Pergerakan angkatan kerja dari perdesaan menuju perkotaan begitu masif. Praktis jumlah penduduk di kota membeludak sementara di desa mengurang.

Wajah perekonomian perlahan berubah dari agraris menjadi industrialis seiring terjadinya alihfungsi lahan. Sawah-sawah yang tadinya subur dan menghasilkan beratus-ratus ton gabah, yang luasnya berhektar-hektar, perlahan menyusut karena dialihfungsikan menjadi pabrik-pabrik. Pemilik lahan tentulah yang paling diuntungkan karena mendapat banyak uang ganti rugi. Yang rugi tentulah para buruh tani yang biasa menggarap lahan. Mereka kehilangan mata pencaharian. Potensi untuk menghasilkan ratusan ton gabah juga tergerus.

Pola pembangunan ala Orde Baru ini membuat pemerataan sebaran penduduk jadi tidak efektif. Berjibunnya angkatan kerja yang mengais rejeki di pusat-pusat industri seperti Jabotabek (Jabodetabek) dan Gerbangkertosusilo, membuat sektor agraris jadi tidak seksi lagi untuk diakrabi. Menjadi buruh pabrik lebih enak ketimbang menggarap sawah. Bekerja di pabrik, habis bulan dapat gaji. Sementara di sawah, harus menunggu hasil panen laku dijual baru bisa mengantongi duit. Itupun kalau lagi hoki. Acapkali justru kesialan yang diderita. Begitu panen harga anjlok ke titik terendah yang membuat mereka merugi karena modal yang dikeluarkan tidak tertutupi oleh hasil penjualan. Apalagi kalau ada utang sama rentenir yang menalangi modal beli bibit, pupuk dan obat-obatan.

Budaya Mudik

Di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata mudik diartikan sebagai: 1. Berlayar (pergi) ke udik (hulu, sungai, pedalaman); 2. Pulang ke kampung halaman.  Ilmu sosial menafsirkan mudik sebagai pergerakan manusia dari satu daerah ke daerah lain dalam batas wilayah dan waktu tertentu. Mengacu tafsiran demikian, maka pergerakan angkatan kerja dari perkotaan ke desa atau kampung halamannya disaat hari raya Idul Fitri, untuk bersilaturahmi dengan keluarga, yang waktunya dibatasi sejak H-7 sampai H+7 masa libur lebaran, itulah mudiknya para pengais rezeki sebagaimana disinggung di atas.
  
Bila kita mengetikkan kata ’mudik’ di Google, maka ratusan ulasan tentang ’mudik’ akan tampil berderet-deret memenuhi layar gawai atau laptop kita, dari sejarahnya sampai dianggapnya ’mudik’ sebagai budaya yang hanya ada di negara kita dan tak terjadi di negara lain. Bahkan segala hal ihwal melingkupinya pun ada. Misalnya, kemacetan, kecelakaan, keindahan, dan serba-serbinya mulai dari saat arus mudik hingga arus balik.

Dari data realisasi pemudik di Posko Angkutan Lebaran Nasional Terpadu, setiap tahunnya mengalami peningatan. Tahun 2012, terdapat sebanyak 22.069.278 orang pemudik, tahun 2013 meningkat menjadi 22.144.610 orang, tahun 2014 meningkat menjadi 23.088.908 orang, dan pada tahun 2015 meningkat menjadi 23.395.367 orang pemudik. Sedangkan jumlah pemudik tahun 2016, Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Perhubungan Kementerian Perhubungan telah melakukan survey potensi pemudik pada Angkutan Lebaran tahun 2016, diprediksi sebanyak 25.495.591 orang. Faktanya jumlah pemudik tahun 2016 adalah sekitar 17,6 juta orang atau terjadi penurunan dari tahun sebelumnya. Sementara untuk tahun 2017, Indonesia Development and Islamic Studies (IDEAS) memproyeksikan akan ada pergerakan 33 juta pemudik pada musim mudik lebaran tahun ini.

Horor Brexit

Akronim Brexit tiba-tiba begitu populer di Indonesia. Tentu saja maksudnya bukan Britain to Exit ihwal pilihan warga Inggris Raya keluar dari Uni Eropa, tetapi sebutan pendek dari Brebes Exit, yakni jalur keluar atau Gerbang Tol Brebes Timur pada ruas tol Pejagan-Brebes. Kepopuleran Brexit setelah terjadi kemacetan panjang (20 kilometer) selama 12 jam kendaraan para pemudik pada musim mudik lebaran tahun 2016.
suasana macet 20 kilometer selama 12 jam mengular di Brebes Timur Exit (Brexit) pada Jumat, 1 Juli 2016
(Foto: KOMPAS/KRISTIANTO PURNOMO)

Penyebabnya, selain karena volume kendaraan yang sedang melonjak drastis karena semua pemudik menggunakan jalur tersebut, ada beragam faktor yang menyebabkan kemacetan hebat di ruas tol Pejagan-Brebes Timur ‎menuju arah Tegal hingga tertahan di Gerbang Tol Brexit. 
Gerbang Tol Brebes Timur, kondisinya saat terjadi gridlock (Foto: istimewa)

Faktor pemicu utamanya ada tiga. Pertama, Jalan arteri yang kecil. Selepas Gerbang Tol Brexit kendaraan dihadapkan pada jalan arteri yang kecil dan tidak mampu menampung ribuan kendaraan yang keluar gerbang. Di samping itu, tidak jauh dari sana ada Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dan pintu perlintasan kereta api yang setiap 20 menit sekali harus ditutup karena ada kereta yang akan lewat.
terjadi gridlock, benar-benar horor ketika belasan korban meninggal (Foto: sisiusaha.com)

Kedua, Faktor kedisiplinan yang rendah. Banyak dari pemudik yang tidak disiplin dengan menyerobot antrean lajur menuju SPBU, sehingga lajur yang dapat digunakan satu lajur contra flow (arus balik) menjadi bertambah sehingga mengurangi lajur berlawanan dan membuat arus kendaraan semakin terkunci.
pantauan udara di Brexit (Foto: Detik.Com)

Ketiga, Petugas di lapangan terlambat melakukan pengalihan arus lalu lintas ke arah Brebes Timur sehingga terjadi stagnansi atau gridlock. Kondisi tersebut mengakibatkan arus lalu lintas macet total dan sulit diurai karena banyak pemudik yang juga sudah berhenti di pinggir jalan karena kelelahan menghadapi kemacetan.
suasana kemacetan saat malam hari (Foto: BERITA SATU.COM)

Akibat yang paling tragis dari tragedi kemacetan di Brexit adalah jatuhnya korban meninggal dunia sebanyak 18 orang. Penyebabnya karena para pemudik kelelahan dan mengalami dehidrasi di tengah cuaca yang panas menyengat sementara sedang menjalankan ibadah puasa. Ada yang karena faktor usia lanjut dan terkena serangan jantung. Memang, tidak semua korban meninggal sebagai akibat langsung tragedi Brexit. Satu pengendara motor meninggal karena menabrak truk yang sedang berhenti di depan sebuah rumah makan. Ada yang karena mobilnya menabrak pohon, ada karena ditabrak kereta api, serta korban tabrak lari oleh pemudik.
 
Antisipasi tak Terulang

Untuk musim mudik lebaran tahun 2017, agar tragedi Brexit tak terulang, pemerintah melakukan sejumlah langkah untuk mengurangi kepadatan lalu lintas di jalur Pantai Utara dan Selatan. Lanjutan ruas tol Pejagan-Brebes diusahakan nyambung ke ruas Brebes-Gringsing yang panjangnya mencapai 110 kilometer. Pada ruas tol Brebes-Gringsing ini pemerintah menyiapkan enam exit, dua di antaranya mengarah ke utara Pantura dan empat exit mengarah ke Selatan.

Tak hanya enam exit tol, pemerintah juga menyiapkan empat flyover di Dermoleng-Ketanggungan, Klonengan-Prupuk, Kretek-Paguyangan dan Kesambi. Pemerintah memang memacu pembangunan ruas tol Brebes-Gringsing berikut enam exit dan empat flyover tersebut karena H-10 atau tanggal 15 Juni 2017 harus sudah selesai untuk diujicoba-operasikan sejak H-7. Sehingga mulai tanggal tersebut para pemudik sudah bisa melewati kota-kota Brebes, Tegal, Pekalongan dan Batang melalui jalan tol. Hanya saja, ruas tol yang dimulai dari Kaligangsa (Brebes) hingga Gringsing (Batang) ini statusnya digunakan secara fungsional khusus untuk musim mudik tahun 2016, karena belum dilengkapi penerangan dan rambu-rambu lainnya, sehingga tidak dipungut biaya alias gratis baik saat mudik maupun balik.  
ribuan kendaraan pemudik melintas di jalan tol fungsional (Brebes Timur-Gringsing sepanjang 110 kilometer) di ruas Pekalongan-batang pada Kamis, 22 Juni 2017. Ruas tol ini hanya dibuka pada siang hari karena belum dilengkapi penernagan jalan dan rambu-rambu lalu lintas (Foto: Tempo.Com)

Keberadaan enam exit tol tersebut akan mampu mengurangi beban keluar kendaraan melalui Gerbang Tol Brexit yang pada musim mudik lebaran 2016 lalu menjadi primadona para pemudik. Dengan dibukanya enam exit tol itu juga akan membuat para pemudik punya pilihan masing-masing akan exit di mana. Tidak semata-mata exit tol Brexit sebagaimana tahun 2016 lalu. Pilihannya tergantung mau ke arah mana mereka menuju. Apakah ke Pantura atau ke Selatan.

Mudik Asiiik

Dari data jumlah pemudik yang selalu meningkat setiap tahun dipaparkan di atas, terlihat bahwa mudik yang hanya ada di negara kita dan tak ada di negara lain telah menjadi fenomena yang menarik. Tapi, benarkah di negara lain tak ada tradisi mudik? Bila memperhatikan foto-foto di bawah, tampaknya di Bangladesh juga ada kegitan mudik atau pulang kampung. Dan moda transportasi masal seperti kereta api menjadi pilihan terfavorit.
ini foto dibidik di sebuah stasiun kereta api di Dhaka, Bangladesh pada 23 Juni 2017 lalu (Foto: Reuters)  
mereka rela mengambil risiko besar demi mudik ke kampung halaman (Foto: Reuters)
duduk di atas atap dalam kondisi sangat padat adalah hal biasa di sana (Foto: Reuters)
penumpang berjubel me4nunggu kereta yang akan membawa mereka pulang kampung berlebaran (Foto: Reuters)
bahkan wanita pun berusaha naik ke atas atap (Foto: Reuters)
tak hanya kereta api, kapal laut pun penuh sesak penumpang hingga ke atas atap (Foto: Reuters)
Di Indonesia, mudik dengan kereta api selalu jadi pilihan utama setelah pesawat terbang. Itulah sebab sejak PT. Kereta Api Indonesia (KAI) membuka penjualan tiket online pada H-90 lebaran, dalam hitungan menit bahkan detik semua tiket yang dijual langsung ludes dipesan para calon penumpang yang akan mudik. Bayangkan 90 hari atau tiga bulan sebelum mudik semua tiket yang ditawarkan terjual habis. Bagaimana kalau tidak jadi lebaran?

Mengapa bisa begitu? Tentu saja banyak alasan para pemudik senang menggunakan kereta api. Sudah barang tentu karena bebas macet serta ongkos yang relatif setara dengan pesawat atau bus. Dan kecepatan sampai di tempat tujuan, membuat kereta api jadi kendaraan favorit. Jadi wajar kalau jauh hari sebelum puasa pun penjualan tiket via online diserbu calon penumpang. Mendapatkan tiketnya begitu mudah, cukup dengan aplikasi KAI Acces atau pesan lewat minimarket yang telah ada jalinan kerja sama dengan PT KAI pun bisa.

Apapun moda transportasi yang digunakan, baik mobil pribadi, bus, kereta api atau pesawat, tradisi mudik bisa dijalani dengan berbagai suasana dan rasa. Terjebak macet berjam-jam, konon ada yang menganggapnya di situlah letak asiiiknya mudik. Sehingga suasana macet itu dirasakan dengan enjoy penuh penerimaan. Tak ada gerutu karena memang kondisi batin sedang menjalani ibadah puasa. Sebab gerutu hanya akan mengurangi pahala puasa. Dan, apa pun kondisinya, lancar atau macet, yang jelas mudik dirasa asiiik karena akan bertemu dengan keluarga dan sanak saudara (Ibu, Ayah, Kakak, Adik dan kerabat lainnya) yang telah berpisah jarak, ruang dan waktu, dalam kungkungan rindu. (*)


Selasa, 16 Mei 2017

GO-JEK Bandarlampung

Aguy, akhirnya di KOTA TAPIS BERSERI ada ojek online. Walau, menurut kabar yang terdengar, bahwa pihak pemerintah kota Bandarlampung merasa pihak penyelenggara belum mengajukan izin operasi. Tapi, di jalan-jalan sekujur kota sudah banyak dijumpai driver ojek berjaket hijau bertulis GO-JEK di punggungnya, berseliweran baik dengan atau tanpa membawa penumpang.

Tapi, jauh sebelum GO-JEK masuk Bandarlampung, terlebih dahulu sudah ada MAS-OJEK yang didirikan pada 31 Agustus 2014. Hanya saja baru bisa diakses melalui website www.masojek.com atau pesan LINE, WA, SMS, belum didukung layanan berbasis aplikasi. Di Kabupaten Pringsewu malahan ada Brother Jek (BRO-JEK), malayani antar-jemput anak sekolah, pegawai dan karyawan. Menyusul kemudian OTO-JEK, SIGER-JEK, Bahkan akan masuk juga MANG-JEK hasil kreasi anak-anak Palembang.
Perkumpulan Ojek Kota Bandarlampung (POKBAL) melakukan sweeping terhadap driver GO-JEK, Sabtu (13/5/2017).
(foto: Arliyus Rahman/SKH LAMPUNG EKSPRES Plus)

Keberadaan GO-JEK ini tentu memunculkan dua opsi pendapat. Satu pihak memandangnya positif, karena akan memudahkan mobilitas. Cukup dengan masuk aplikasi dan melakukan order tanpa beranjak dari tempat berada, driver GO-JEK akan menyambangi ke tempat sesuai alamat yang diberikan. Tak harus capek-capek dan berpanasan berjalan ke tempat Tukang Ojek Pangkalan (TOP).

Satu pihak lain yang memandang negatif, terutama dari para TOP, bahwa keberadaan GO-JEK akan mengurangi minat penumpang terhadap mereka dan tentu hal ini akan mengurangi pemasukan mereka. Para TOP memandang kehadiran GO-JEK akan menggusur secara perlahan eksistensi mereka yang sudah menekuni profesi sebagai pengojek puluhan tahun.

Rezeki tak akan Tertukar

Aguy, barangkali mereka lupa atau tidak tahu sama sekali bahwa sesungguhnya rezeki itu sudah ada porsi bagiannya masing-masing. Kalau sudah rezeki tak akan tertukar kepada orang lain. Asumsi rezeki tak akan tertukar ini membutuhkan pemahaman dan penghayatan sungguh-sungguh. Hanya bagi orang yang mendalami ajaran agamalah, adagium tersebut bisa membuatnya legawa lillahita’ala.
Helm-helm driver GO-JEK diambil paksa begitu juga jaket, lalu dimusnahkan dalam jilatan api.
(foto: Arliyu Rahman/LE-Plus)

Bagi mereka yang tak paham apalagi menghayati, melihat kehadiran GO-JEK bagai sambaran petir di siang bolong. Bagi mereka, GO-JEK adalah pesaing yang harus ditentang. Karena itu terjadilah sweeping oleh TOP terhadap driver GO-JEK. Jaket dan helm diambil paksa dan dibakar di tempat mereka melakukan razia. Di Terminal Rajabasa, di beberapa tempat pangkalan mereka.

Apa yang terjadi sesungguhnya bukanlah sesuatu yang unpredictable. Semua sudah bisa ditebak. Sebab, kejadian penolakan terhadap moda transportasi berbasis aplikasi bukan hanya sekali ini, bukan hanya di Bandarlampung. Jauh hari sudah pernah terjadi di Jakarta. Driver taksi konvensional berdemo dan anarkis terhadap taksi online seperti Uber dan Grab Car.

Tak ada asap kalau tak ada api. Pemeo abadi ini tak bisa dikesampingkan pada kasus sweeping oleh TOP terhadap driver GO-JEK. Sebab, aksi yang POKBAL lakukan, menurut mereka, sebagai balasan atas pengrusakan pangkalan ojek yang dilakukan oleh para driver GO-JEK sebelumnya. Kalau memang benar, wajar mereka melakukan pembalasan. Tapi, tindakan anarkis tentu bukan suatu cara yang bisa dibenarkan.    
Polresta Bandarlampung memediasi perdamaian antara POKBAL dan driver OTO-JEK dan GO-JEK, Senin (15/5/2017), yang sempat terjadi insiden di beberapa titik. Dengan perdamaian ini diharapkan ke depan tercipta situasi kondusif demi kenyamana bersama dalam mengais rezeki. (foto: Arliyus Rahman/LE-Plus) 

Tergusurnya Bus DAMRI

Jauh sebelum adanya moda transportasi berbasis aplikasi GO-JEK, bahkan jika men-scroll waktu ke tahun 90an, alat transportasi bagi warga Bandarlampung adalah angkutan kota (angkot) dan Bus DAMRI. Ketika di Jakarta muncul TransJakarta juga di Yogyakarta dan kota besar lainnya, pemerintah Kota Bandarlampung ikut-ikutan mengizinkan beroperasinya Bus Rapid Transit (BRT) Trans Bandarlampung.

Tak tanggung-tanggung, armada yang dikelola oleh Konsorsium PT Trans Bandarlampung (PT. TBL) yang merupakan gabungan 37 perusahaan angkutan di Bandarlampung. Mulai dioperasikan pada 14 November 2011 dengan 40 armada bus yang murni dibeli oleh konsorsium. Sama seperti TOP, hadirnya BRT membuat sopir angkot berdemo kepada Wali Kota Herman HN dan melakukan aksi anrkis dengan melempari kaca belakang BRT.
Inilah BRT Trans Bandarlampung yang keberadaannya tinggal sedikit dan kurang peminat, kebanyakan sepi penumpang dan menjenuhkan dalam menunggu kedatangannya. Maka, GO-JEK dianggap alternatif moda transportasi yang menjanjikan kenyamanan mobilitas warga kota TAPIS BERSERI. (foto: istimewa/net)

Seiring dengan mengadakan BRT, pemerintah Kota Bandarlampung juga menyetop izin trayek dan penambahan armada baru bagi angkot. Bus DAMRI yang ’berkawan’ dengan angkot pun ikut ’digusur’ keberadaannya. Sejalan pula kemudahan kredit sepeda motor oleh pihak leasing, membuat naiknya daya beli masyarakat sehingga terjadi peningkatan jumlah sepeda motor di jalanan.

Dengan luas wilayah  197,22 km persegi, dengan panjang jalan negara 65,04 km dan jalan provinsi 43,98 km. Upaya melebarkan jalan dengan menggusur trotoar, sementara penggunaan kendaraan pribadi (mobil dan motor) yang meningkat drastis, menciptakan kemacetan luar biasa pada jam-jam sibuk pagi hari saat pergi ke kantor dan sekolah, dan petang hari saat pulang kantor dan sekolah.

Penyingkap Tabir Pengangguran

BRT di Kota Bandarlampung memang murni inisiatif swasta, tidak mendapat subsidi pemerintah. Pengadaan armadanya kerja sama konsorsium 37 perusahaan angkutan yang sudah sejak lama beroperasi. Dengan merencanakan pembukaan 14 koridor, harapan yang dituju dengan dioperasikannya BRT adalah untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi sekitar 1.500 orang, berupa sopir dan kru bus serta tenaga administrasi di kantor PT Trans Bandarlampung (PT. TBL).

Begitu juga GO-JEK di Bandarlampung. Bisa jadi pekerjaan sampingan bagi orang yang memiliki banyak waktu luang. Di sela-sela kesibukan atau mengambil waktu sesudah pulang bekerja kantoran, sejak petang hingga malam bisa menunggu orderan sebagai driver GO-JEK, toh fasilitas layanannya tidak melulu jemput dan antar penumpang, bisa juga melayani delivery makanan (GO-FOOD) dan belanja barang lainnya (GO-MART).

Penyelenggara GO-JEK Bandarlampung membuka pintu bagi TOP untuk bergabung asal memenuhi persyaratan yang telah ditentukan. Kalau hal ini dimanfaatkan, bisa saja dia tetap mangkal di tempat TOP sebagaimana biasanya, sambil melayani penumpang langganan sebagai pengojek konvensional juga untuk menunggu orderan GO-JEK lewat gawainya.

Apakah TOP atau pekerja paruh waktu, lebih-lebih yang lama menganggur karena mencari kerja tak dapat-dapat, mestinya hadirnya GO-JEK disikapi positif sebagai pembuka tabir gelap pengangguran yang madesu (masa depan suram), jangankan jodoh (bagi yang lajang) sedang uang untuk beli rokok saja tak punya, apalagi untuk bayar mahar si gadis pujaan.

Solusinya Peningkatan Pelayanan

Baru bulan Maret lalu, beredar kabar bahwa Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X, akan melarang ojek aplikasi di Yogya. Tak pelak kabar ini menimbulkan kegusaran. Banyak warga Yogya yang mengeluhkan rencana tersebut. Para pengguna menganggap aturan tersebut akan menghambat mobilitas mereka. Padahal GO-JEK Indonesia resmi berekspansi di Yogya sejak 16 November 2015 dengan jumlah driver 200 orang. Dan saat ini keberadaan mereka konon telah mencapai 6.000 armada se-DIY.

Pada mulanya kehadiran GO-JEK di Yogya juga tidak diterima dengan ramah oleh TOP. Ini di luar kelaziman Wong Yukjo yang super ramah. Maka, untuk menghindari konflik, driver GO-JEK lebih memilih menjemput langsung pemesannya ke halaman rumah atau masuk kampus bila yang memesan mahasiswa/i. Karena bila menunggu di pinggir jalan mereka khawatir akan diserang oleh TOP.

Wacana pelarangan oleh Gubernur DIY karena makin maraknya keberadaan taksi dan ojek online yang berpotensi mematikan kendaran berpelat kuning. Larangan akan diberlakukan setelah mendapat izin dari Kementerian Perhubungan. Semua kendaraan berplat hitam seperti GO-JEK, Go-car, Grab car, Uber akan dilarang karena mereka tak berizin.

Rencana pelarangan taksi online akan diimbangi dengan meningkatkan jumlah TransJogja. Hal itu dilakukan agar masyarakat leluasa untuk berpergian di dalam kota. Tak hanya jumlah armada, pelayanan juga akan lebih ditingkatkan di antaranya dengan menambah 9 trayek baru pada April 2017 dan adanya kemudahan pembayaran TransJogja menggunakan kartu elektronik.

Trayek yang tadinya hanya 8 akan ditambah menjadi 17. Jumlah armada juga ditambah menjadi total 128 unit. Shelter pun ditambah. bayar TransJogja juga dipermnudah. Bisa bayar di atas bus. Dengan begitu, keberadaan taksi berplat hitam yang dianggap mengganggu kenyamanan TransJogja, berangsur-angsur akan dieliminasi dari jalanan Kota Gudeg.

Begitu juga di Kota bandarlampung, mungkin untuk menghambat kehadiran Go-Car, Grab-Car dan Uber. Walau sudah ada taksi online (Timbel Taksi), kini sudah makin sering dijumpai Trans Lampung, yaitu taksi baru yang menjadi alternatif pilihan bagi warga di samping Siger Taksi dan Taksi Puspa yang sudah lama beredar keliling-keliling kota, menambah sesaknya jalanan yang kian polusi. 

Dinamika Zaman yang Berubah

Begitulah, pro-kontra terhadap dinamika zaman yang berubah, tak bisa dihindarkan. Perubahan, apa pun itu, selalu akan terjadi, selalu akan berulang. Dibutuhkan kearifan dalam menyikapi, menerima dan menolak. Perubahan adalah suatu keniscayaan, tak mungkin dihindari. Kalau mau maju, mau tidak mau, harus menerima perubahan. Harus bergerak tak bisa berdiam diri.